ASAL USUL ALAM SEMESTA
Pernahkah Anda
merenung tentang asal usul alam semesta, bagaimanakah alam semesta dapat
berbentuk ? Pertanyaan tersebut yang mendorong ilmuan di setiap zaman
termotivasi untuk melakukan eksperimen dan mengeluarkan teori tentang asal usul
alam semesta, di ataranya adalah Teori Steady State yang menyatakan bahwasanya
alam semesta tiada mempunyai awal dan akhir. Dan ada juga Teori Big Bang yang
menyatakan bahwasanya alam semesta terbentuk akibat sebuah ledakan besar dari
satu titik yang mempunyai kerapatan yang luar biasa.
Teleskop
Hubble yang dapat mengamati luar angkasa telah membuktikan bahwa
bintang-bintang di luar angkasa dan juga galaksi-galaksi bergerak saling
menjauh, hal ini berarti alam semesta mengembang. Apabila alam semesta
mengembang, maka secara logika asal alam semesta dahulu berada pada suatu
titik. Ibarat balon yang mengembang, pasti sebelumnya berasal dari suatu titik
yang belum mengembang.
Peristiwa
Big Bang masih menyisakan radiasi sisa setelah peristiwa Big Bang dan radiasi
tersebut masih dapat diamati pada saat ini. Radiasi latar belakang kosmik yang
merupakan bukti Big Bang berhasil dideteksi oleh Arno Penzias dan Robert Wilson
pada tahun 1965, dan keduanya mendapatkan hadiah Nobel karena penemuannya.
Jelas sekali secara ilmiah bahwasanya alam semesta terbentuk karena Big Bang,
ini artinya dahulu alam semesta hanya satu titik yang mempunyai kerapatan luar
biasa dan dahulunya langit dan bumi itu berasal dari satu titik tersebut.
Harun
Yahya seorang penulis besar mengatakan : “Big Bang tak hanya membuktikan bahwa
alam semesta diciptakan dari ketiadaan, tetapi ia juga diciptakan secara sangat
terencana, sistematis, dan teratur. Big Bang terjadi melalui ledakan suatu
titik yang berisi semua materi dan energi alam semesta serta penyebarannya ke
segenap penjuru ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dari materi
dan energi ini, muncullah suatu keseimbangan luar biasa yang melingkupi
berbagai galaksi, bintang, matahari, bulan, dan benda angkasa lainnya. Hukum
alam pun terbentuk yang kemudian disebut ‘Hukum Fisika’, yang seragam di
seluruh penjuru alam semesta dan tidak berubah. Hukum Fisika yang muncul
bersamaan dengan Big Bang tak berubah sama sekali selama lebih dari 15 miliar
tahun. Selain itu, hukum ini didasarkan atas perhitungan yang sangat teliti,
sehingga penyimpanan satu milimeter saja dari angkasa yang ada sekarang akan
berakibat pada kehancuran seluruh bangunan dan tatanan alam semesta. Semua ini
menunjukan bahwa suatu tatanan sempurna muncul setelah Big Bang.”
Beratus-ratus
tahun yang lalu sebelum ditemukan teleskop Hubble dan sebelum ditemukan bukti
ilmiah tentang Big Bang, dalam Al-Qur’an disebutkan: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu
adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapa mereka tiada
juga beriman?” (Al-Anbiya: 30).
MATEMATIKA AL-QUR’AN
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang merupakan sebuah mukjizat. Tidak ada
yang menandingi keindahan bahasa Al-Qur’an dan keindahan ketika kita melantukan
Al-Qur’an. Banyak orang yang hatinya tergetar jika dibacakan ayat-ayat
Al-Qur’an, sehingga kemudian dia mendapatkan risalah kebenaran. Al-Qur’an
adalah satu-satunya kitab yang terjaga keasliannya walau telah diturunkan 14
abad yabg lalu. Banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk
memalsukan Al-Qur’an, namun usaha itu selalu kandas. Al-Qur’an yang berjumlah
30 juz, 112 surah, 6.000 lebih ayat, dan 51.900 kata itu dengan mudah
dihafalkan oleh orang-orang yang beriman dan mempunyai hati yang bersih.
Al-Qur’an adalah sumber ilmu yang tidak pernah ketinggalan zaman,bahkan selalu
mendahului zaman, karena kebenarannya baru terbukti ketika zaman sudah mampu
menciptakan teknologi. Keajaiban lain dari Al-Qur’an yang tak kalah
mencengangkan adalah bahwa Al-Qur’an ternyata tersusun menurut perhitungan
Matematis yang sangat teliti dan sangat cerdas!!
Berikut ini
sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan mukjizat.
1.
Kata
“Yaum” (hari) dalam bentuk tunggal
disebutkan sebanyak 365 kali, yang sama jumlahnya dengan jumlah hari pada tahun
Syamsiah.
2.
Kata
“Yaum” (hari) dalam bentuk jamak
sebanyak 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam satu bulan.
3.
Kata
“Syahr” (bulan) sebanyak 12 kali,
sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun.
4.
Kata
“Sab’u” (minggu) disebutkan 7 kali,
sama dengan jumlah hari dalam satu minggu.
5.
Jumlah
“Saah” (jam) yang didahului dengan “Harf” sebanyak 24 kali, sama dengan
jumlah jam dalam satu hari.
6.
Kata
“Sujud” disebutkan 34 kali, sama
dengan jumlah rakaat dalam shalat 5 waktu.
7.
Kata
“Shalawat” disebutkan 5 kali, sama dengan jumlah shalat wajib sehari semalam.
Dan masih banyak lagi yang tidak dapat
disebutkan satu per satu. Sekarang lakukan perhitungan sebagai berikut:
Dengan
mencari persentase jumlah kata “bahr”
(lautan) terhadap total jumlah kata (bahr
dan barr), kita dapatkan: (32/45) x
100% = 71.1111111%
Dengan
mencari persentase jumlah kata “barr”
(daratan) terhadap total jumlah kata (bahr
dan barr) kita dapatkan: (13/45) x
100% = 28.888888889%
Kita akan mendaatkan bahwa Allah Swt,
dalam Al-Qur’an pada 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi
adalah 71.11111111%, dan persentase daratan adalah 28.888888889, dan ini adalah
rasio yang rill dari air dan daratan. Itulah sebagian kecil keajaiban dan
kemukjizatan Al-Qur’an. Keajaiban yang lain merupakan misteri yang akan insya
Allah akan di pecahkan oleh orang-orang yang berilmu.
Seorang ahli Biokimia berkebangsaan
Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa, adalah
orang pertama yang menemukan sistem Matematika pada desain Al-Qur’an. Dia
memulai










